Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau tancap gas menggerakkan
ekonomi syariah lewat pembukaan Ramadan Fair (KURMA) 2026 di One Batam Mall,
Rabu (4/3/2026). Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto bersama Wakil
Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura memimpin langsung kick off agenda
tahunan tersebut.
KURMA 2026 berlangsung
2–8 Maret di dua kota: Batam dan Tanjungpinang. Di Batam, kegiatan terpusat di
One Batam Mall. Di Tanjungpinang, rangkaian acara bergulir di Kawasan Gurindam
12.
Referensi Geografis
BI menggandeng
Pemerintah Provinsi Kepri dan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah
(KDEKS) untuk memperluas dampak ke pelaku usaha.
Rony menegaskan, KURMA
bukan sekadar bazaar Ramadan. BI merancangnya sebagai platform integrasi UMKM,
literasi ekonomi syariah, digitalisasi pembayaran QRIS, hingga business
matching pembiayaan.
Baca juga:Satgas PASTI OJK
Kepri Sasar Investasi Bodong dan Pinjol Ilegal
“Kami dorong UMKM naik
kelas, terkoneksi pembiayaan, dan masuk ekosistem digital,” katanya.
Selama sepekan, KURMA
menghadirkan UMKM Expo, bazaar, business matching, fashion show modest wear,
tausiyah, seminar, kompetisi, pasar murah, hingga hiburan rakyat.
Agenda ini juga menjadi
bagian dari Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera yang
bermuara pada Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF).
BI mematok target lebih
tinggi dari tahun lalu. Pada 2025, KURMA mencatat transaksi penjualan UMKM Rp2,33
miliar dan realisasi pembiayaan Rp2,19 miliar.
Tahun ini, BI membidik
penjualan Rp2,5 miliar atau tumbuh 7,3 persen. Nilai business matching
ditargetkan Rp2,25 miliar.
Tak hanya itu, BI
mengejar 40 ribu transaksi QRIS dengan nominal Rp1,8 miliar selama kegiatan.
Saat ini, pengguna QRIS di Kepri telah menembus sekitar 1,2 juta atau 73 persen
dari target, dengan volume transaksi mencapai lebih dari 100 juta kali dan
nominal sekitar Rp5,5 triliun.
BI ingin memastikan
pasar tradisional, rumah ibadah, hingga sentra UMKM makin akrab dengan
pembayaran digital.
Sementara itu, Wakil
Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura menyebut KURMA sebagai pengungkit
pertumbuhan, meski ia mengakui ekonomi triwulan pertama belum melesat
signifikan.
“Kami dorong momentum Ramadan
ini memberi kontribusi nyata pada indikator pertumbuhan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan
industri halal, pembiayaan perbankan syariah, serta layanan keuangan digital
akan menopang stabilitas ekonomi Kepri 2026.
Sinergi BI, pemerintah
daerah, dan pemangku kepentingan diharapkan menjaga inflasi tetap terkendali
sekaligus memperluas akses UMKM ke pasar dan pembiayaan.
KURMA kini memasuki
tahun ketiga pelaksanaan. BI Kepri ingin menjadikannya lokomotif ekonomi
syariah yang inklusif, berkelanjutan, dan relevan dengan denyut industri
Kepri—mulai dari manufaktur, galangan kapal, hingga sektor logistik yang
menyerap produk dan jasa UMKM lokal.

No comments:
Post a Comment