Semangat
kepemimpinan dan keberanian untuk memulai menjadi kunci perjalanan seorang
mahasiswa Program Studi Bisnis Digital di Indobaru Nasional, Samuel Noperto,
dalam membangun program kerja yang kini menjadi salah satu pengalaman berharga
selama masa perkuliahannya.
Perjalanan
tersebut sebenarnya telah dimulai sejak semester pertama. Di saat sebagian
mahasiswa masih beradaptasi dengan lingkungan kampus, Samuel justru memberanikan
diri untuk maju sebagai calon Wakil BEM. Meski belum sepenuhnya memahami
dinamika organisasi kampus, tekadnya untuk belajar dan berkontribusi
mengalahkan rasa takut dan keraguan yang ada.
Memasuki
semester ketiga, sebuah momen penting kembali terjadi. Pada tanggal 2 Oktober,
salah satu dosen memberikan saran agar ia menyusun program kerja khusus untuk
Program Studi Bisnis Digital. Saran tersebut bukan hanya sekadar tugas
akademik, tetapi menjadi peluang nyata untuk membuktikan kapasitas diri.
Awalnya,
muncul rasa tidak percaya diri. Pertanyaan seperti “Apakah saya mampu?” sempat
terlintas dalam pikirannya. Namun dukungan dari pihak program studi membuatnya
kembali yakin untuk melangkah. Ia mulai menyusun proposal dengan serius,
merancang konsep kegiatan yang tidak hanya kreatif tetapi juga berdampak bagi
prodi.
Tak
disangka, proposal tersebut mendapat persetujuan langsung dari pimpinan kampus.
Persetujuan itu menjadi titik awal dimulainya perjuangan yang sesungguhnya.
Sebab setelah ide diterima, tantangan terbesar adalah bagaimana
merealisasikannya dengan baik.
Dalam
prosesnya, Samuel tidak berjalan sendiri. Ia menggandeng Sandria Kanaya
Rumbajan sebagai bendahara sekaligus rekan kerja utama dalam menjalankan
program tersebut. Keduanya membagi tugas secara profesional: mulai dari
menyusun strategi promosi, mencetak dan menyebarkan brosur, hingga melakukan
sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah.
Namun,
perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ketika masa pendaftaran lomba
dibuka, respons awal sangat minim. Hanya satu tim yang mendaftar, jauh dari
target sepuluh tim yang diharapkan. Situasi itu sempat menimbulkan kekhawatiran
besar. Apakah kegiatan ini akan gagal sebelum dimulai?
Di
tengah tekanan tersebut, mereka memilih untuk tidak menyerah. Promosi terus
dilakukan secara konsisten. Komunikasi dengan sekolah-sekolah diperkuat.
Keyakinan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil menjadi pegangan utama.
Hasilnya
benar-benar di luar dugaan. Tujuh hari menjelang penutupan pendaftaran, jumlah
peserta meningkat secara drastis hingga mencapai 20 tim. Lonjakan tersebut
menjadi bukti bahwa konsistensi dan kerja keras mampu membalikkan keadaan.
Setelah
jumlah peserta dipastikan, kesibukan panitia semakin meningkat. Sebanyak 56
sertifikat harus disiapkan. Perlengkapan lomba, sistem penjurian, serta hadiah
untuk para pemenang juga dipersiapkan dengan matang. Proses tersebut memang
melelahkan, namun di sanalah nilai kepemimpinan, kerja sama tim, dan tanggung
jawab benar-benar diuji.
Kegiatan
yang awalnya lahir dari sebuah saran sederhana akhirnya menjadi pengalaman
transformasional. Tidak hanya berhasil secara teknis dengan jumlah peserta yang
melampaui target, tetapi juga memberikan pelajaran mendalam tentang keberanian
mengambil peluang, manajemen waktu, komunikasi, dan daya juang.
Kini,
pengalaman tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan
akademik Samuel di Indobaru Nasional. Dari seorang mahasiswa yang awalnya ragu,
ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan siap menghadapi tantangan
yang lebih besar.
Kisah
ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dimulai dengan keberanian
dapat berkembang menjadi pencapaian besar. Tantangan dan hambatan bukanlah
alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.
Semoga
kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus aktif,
berani mengambil inisiatif, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kampus serta
masa depan mereka sendiri.

No comments:
Post a Comment